Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Shahih Sunan Abu Daud Kitab PAJAK, KEPEMIMPINAN DAN FAI 23. Berita Bani Nadhir

Posted by Unknown on Senin, 13 Mei 2013



عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ كُفَّارَ قُرَيْشٍ كَتَبُوا إِلَى ابْنِ أُبَيٍّ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ مَعَهُ الْأَوْثَانَ مِنْ الْأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ بِالْمَدِينَةِ قَبْلَ وَقْعَةِ بَدْرٍ إِنَّكُمْ آوَيْتُمْ صَاحِبَنَا وَإِنَّا نُقْسِمُ بِاللَّهِ لَتُقَاتِلُنَّهُ أَوْ لَتُخْرِجُنَّهُ أَوْ لَنَسِيرَنَّ إِلَيْكُمْ بِأَجْمَعِنَا حَتَّى نَقْتُلَ مُقَاتِلَتَكُمْ وَنَسْتَبِيحَ نِسَاءَكُمْ فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ وَمَنْ كَانَ مَعَهُ مِنْ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ اجْتَمَعُوا لِقِتَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيَهُمْ فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ وَعِيدُ قُرَيْشٍ مِنْكُمْ الْمَبَالِغَ مَا كَانَتْ تَكِيدُكُمْ بِأَكْثَرَ مِمَّا تُرِيدُونَ أَنْ تَكِيدُوا بِهِ أَنْفُسَكُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تُقَاتِلُوا أَبْنَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ فَلَمَّا سَمِعُوا ذَلِكَ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَفَرَّقُوا فَبَلَغَ ذَلِكَ كُفَّارَ قُرَيْشٍ فَكَتَبَتْ كُفَّارُ قُرَيْشٍ بَعْدَ وَقْعَةِ بَدْرٍ إِلَى الْيَهُودِ إِنَّكُمْ أَهْلُ الْحَلْقَةِ وَالْحُصُونِ وَإِنَّكُمْ لَتُقَاتِلُنَّ صَاحِبَنَا أَوْ لَنَفْعَلَنَّ كَذَا وَكَذَا وَلَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَدَمِ نِسَائِكُمْ شَيْءٌ وَهِيَ الْخَلَاخِيلُ فَلَمَّا بَلَغَ كِتَابُهُمْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْمَعَتْ بَنُو النَّضِيرِ بِالْغَدْرِ فَأَرْسَلُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْرُجْ إِلَيْنَا فِي ثَلَاثِينَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِكَ وَلْيَخْرُجْ مِنَّا ثَلَاثُونَ حَبْرًا حَتَّى نَلْتَقِيَ بِمَكَانِ الْمَنْصَفِ فَيَسْمَعُوا مِنْكَ فَإِنْ صَدَّقُوكَ وَآمَنُوا بِكَ آمَنَّا بِكَ فَقَصَّ خَبَرَهُمْ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ غَدَا عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْكَتَائِبِ فَحَصَرَهُمْ فَقَالَ لَهُمْ إِنَّكُمْ وَاللَّهِ لَا تَأْمَنُونَ عِنْدِي إِلَّا بِعَهْدٍ تُعَاهِدُونِي عَلَيْهِ فَأَبَوْا أَنْ يُعْطُوهُ عَهْدًا فَقَاتَلَهُمْ يَوْمَهُمْ ذَلِكَ ثُمَّ غَدَا الْغَدُ عَلَى بَنِي قُرَيْظَةَ بِالْكَتَائِبِ وَتَرَكَ بَنِي النَّضِيرِ وَدَعَاهُمْ إِلَى أَنْ يُعَاهِدُوهُ فَعَاهَدُوهُ فَانْصَرَفَ عَنْهُمْ وَغَدَا عَلَى بَنِي النَّضِيرِ بِالْكَتَائِبِ فَقَاتَلَهُمْ حَتَّى نَزَلُوا عَلَى الْجَلَاءِ فَجَلَتْ بَنُو النَّضِيرِ وَاحْتَمَلُوا مَا أَقَلَّتْ الْإِبِلُ مِنْ أَمْتِعَتِهِمْ وَأَبْوَابِ بُيُوتِهِمْ وَخَشَبِهَا فَكَانَ نَخْلُ بَنِي النَّضِيرِ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاصَّةً أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا وَخَصَّهُ بِهَا فَقَالَ { وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ } يَقُولُ بِغَيْرِ قِتَالٍ فَأَعْطَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَهَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَقَسَمَهَا بَيْنَهُمْ وَقَسَمَ مِنْهَا لِرَجُلَيْنِ مِنْ الْأَنْصَارِ وَكَانَا ذَوِي حَاجَةٍ لَمْ يَقْسِمْ لِأَحَدٍ مِنْ الْأَنْصَارِ غَيْرِهِمَا وَبَقِيَ مِنْهَا صَدَقَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي فِي أَيْدِي بَنِي فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

3004. Dari seorang lelaki Anshar: Orang-orang kafir Quraisy menulis kepada Ibnu Ubay dan orang-orang yang bersamanya —dari suku Aus dan Khazraj— dalam menyembah berhala. Saat itu Rasulullah SAW berada di Madinah, sebelum terjadinya perang Badar. Tulisan tersebut adalah:

"Kalian telah memberi tempat kepada teman kami, maka kami bersumpah demi Allah, kalian harus membunuhnya atau mengusirnya, atau kami datang secara menyeluruh kepadamu untuk memerangi orang-orang yang memerangi kalian dan kami mengambil istri-istri kalian."

Setelah kabar itu datang dan didengar Rasulullah SAW, beliau menemui mereka dan berkata, "Ancaman yang berat dari orang-orang Quraisy telah datang kepadamu. Konspirasi yang ingin kamu laksanakan tidak mempunyai keuntungan yang lebih dari kerugian yang menimpamu, yaitu kamu ingin membunuh anak-anakmu dan saudara-saudaramu —yang telah masuk Islam—."

Setelah mendengar perkataan Rasulullah SAW, mereka akhirnya terpecah belah. Setelah perang Badar, orang-orang kafir Quraisy mengirim surat kepada orang-orang Yahudi:

"Sesungguhnya kalian adalah ahli persenjataan dan perbentengan, dan kalian harus membunuh teman kami, atau kami melakukan ...(perawi menyebutkan cerita selanjutnya). Tidak ada halangan apa pun antara kami dengan gelang kaki istri-istrimu."

Setelah isi surat itu sampai kepada Rasulullah SAW, orang-orang Yahudi Bani Nadhir sepakat untuk melakukan tipuan terhadap Rasulullah SAW, maka mereka mengirim utusan kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan keinginan mereka. Utusan itu berkata, "Keluarlah dengan tiga puluh lelaki dari sahabat-sahabatmu, maka kami akan mengeluarkan tiga puluh ulama (Yahudi). Kita akan bertemu di tengah-tengah (lapangan). Mereka akan mendengarkanmu, dan jika mereka membenarkanmu maka kami akan beriman..." (perawi hadits menuturkan cerita mereka).

Esok harinya, Rasulullah SAW pergi dengan membawa pasukan yang banyak dan mengepung mereka. Rasulullah SAW berkata kepada mereka, "Demi Allah, kalian tidak mendapatkan keamanan dariku, kecuali ada penjanjian diantara kita."" Namun orang-orang Yahudi itu tidak mau membuat perjanjian, maka Rasulullah SAW memerangi mereka pada hari itu.

Pada hari berikutnya, Rasulullah SAW mendatangi Bani Quraizhah dan melewati Bani Nadhir, dengan membawa pasukan yang banyak. Rasulullah SAW mengajak Bani Quraizhah untuk membuat perjanjian, mereka pun membuat perjanjian. Rasulullah SAW meninggalkan Bani Quraizhah dan pergi menuju Bani Nadhir dengan membawa pasukan yang banyak. Kemudian Rasulullah SAW memerangi mereka sampai mereka hampir keluar dari Madinah. Akhirnya mereka keluar dari Madinah dengan membawa (semacam kendaraan) yang dapat memuat barang-barang, pintu-pintu rumah, dan kayu-kayu.

Kurma-kurma Bani Nadhir menjadi milik Rasulullah SAW secara khusus, karena Allah memberikannya kepada beliau secara khusus melalui firman-Nya, "Dan apa saja harta rampasan (fa'i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun." (Qs. Al Hasyr [59]: 6). Allah telah memberikannya dengan tanpa sebab peperangan.

Rasulullah SAW memberikan sebagian besar kurma-kurma itu kepada kaum Muhajirin dan dua lelaki dari kaum Anshar yang fakir. Selain kedua lelaki itu, Rasulullah SAW tidak memberikan bagian kepada kaum Anshar. Sisanya menjadi sedekah yang ada di tangan Fatimah. (Shahih) sanadnya.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ يَهُودَ النَّضِيرِ وَقُرَيْظَةَ حَارَبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَجْلَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَنِي النَّضِيرِ وَأَقَرَّ قُرَيْظَةَ وَمَنَّ عَلَيْهِمْ حَتَّى حَارَبَتْ قُرَيْظَةُ بَعْدَ ذَلِكَ فَقَتَلَ رِجَالَهُمْ وَقَسَمَ نِسَاءَهُمْ وَأَوْلَادَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا بَعْضَهُمْ لَحِقُوا بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّنَهُمْ وَأَسْلَمُوا وَأَجْلَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهُودَ الْمَدِينَةِ كُلَّهُمْ بَنِي قَيْنُقَاعَ وَهُمْ قَوْمُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ وَيَهُودَ بَنِي حَارِثَةَ وَكُلَّ يَهُودِيٍّ كَانَ بِالْمَدِينَةِ

3005. Dari Ibnu Umar: Orang-orang Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraizhah pernah memerangi Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW mengusir orang-orang Yahudi Bani Nadhir, tetapi membiarkan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah serta memberi (keamanan) kepada mereka. Selang beberapa waktu, orang-orang Yahudi Bani Nadhir memerangi Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW membunuh kaum lelaki dari mereka dan membagi-bagi istri-istri, anak-anak, serta harta benda mereka kepada kaum muslim, kecuali mereka yang meminta perlindungan kepada Rasulullah SAW dan masuk Islam. (Dengan demikian), Rasulullah SAW mengeluarkan semua orang Yahudi kota Madinah; Yahudi Bani Qainuqa' (para pengikut Abdullah bin Salam), Yahudi Bani Haritsah, dan setiap orang Yahudi yang ada di Madinah. (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

More about → Shahih Sunan Abu Daud Kitab PAJAK, KEPEMIMPINAN DAN FAI 23. Berita Bani Nadhir

Shahih Sunan Abu Daud Kitab ADAB 37. Transformasi Berita

Posted by Unknown on Kamis, 09 Mei 2013



عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

4868. Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seseorang membicarakan sesuatu, kemudian ia menoleh, maka itu adalah amanat." Hasan: Ash-Shahihah (1089)

More about → Shahih Sunan Abu Daud Kitab ADAB 37. Transformasi Berita

Riyadhus Shalihin -Imam An-Nawawi- Bab 95: Sunnahnya Memberikan Berita Gembira Dan Mengucapkan Ikut Bergembira Dengan Diperolehnya Kebaikan

Posted by Unknown on Jumat, 19 April 2013


Nomor: 705

Dari Abu Ibrahim, dikatakan pula bahwa namanya ialah Abu Muhammad dan ada yang mengatakan Abu Mu'awiyah yaitu Abdullah bin Aufa radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah memberikan berita gembira kepada Khadijah - isterinya - dengan memperoleh sebuah rumah di dalam syurga yang terbuat dari mutiara berlobang. Di situ tidak ada teriakan apapun dan tidak pula ada kelelahan. (Muttafaq 'alaih)

Al-Qashab di sini artinya ialah mutiara berlobang; as-Shakhab artinya teriakan dan jeritan; an-Nashab yaitu kelelahan.

Nomor: 706

Dari Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه bahwasanya ia berwudhu' di rumahnya kemudian keluar lalu berkata: "Niscayalah saya akan menetap bersama Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan selalu berada di sisinya pada hari ini." la mendatangi masjid, lalu menanyakan perihal Nabi صلی الله عليه وسلم Orang-orang sama berkata: "Beliau menuju ke sana."

Abu Musa berkata: "Saya lalu keluar mengikuti jejaknya sambil menanyakan perihal beliau, sehingga masuklah beliau ke perigi -atau sumur - Aris. Saya duduk di sisi pintu sehingga Rasulullah صلی الله عليه وسلم menyelesaikan hajatnya dan berwudhu'. Selanjutnya saya berdiri menuju ke tempatnya, beliau di saat itu sudah duduk di atas perigi Aris dan berada di tengah-tengah dinding perigi tersebut. Beliau membuka kedua betisnya dan melemberehkan keduanya itu di perigi. Saya lalu memberikan salam padanya, kemudian saya kembali terus duduk di sisi pintu. Saya berkata: "Benar-benar saya akan menjadi juru penjaga pintu Rasulullah صلی الله عليه وسلم pada hari ini."

Kemudian datanglah Abu Bakar رضي الله عنه lalu menolakkan pintu. Saya bertanya: "Siapakah ini?" la menjawab: "Abu Bakar." Saya berkata: "Tunggu sebentar." Sayapun pergilah lalu berkata: "Ya Rasulullah. Ini Abu Bakar datang meminta izin." Beliau صلی الله عليه وسلم menjawab: "Izinkan ia dan sampaikanlah berita gembira padanya bahwa ia akan memperoleh syurga." Saya menghadap kembali sehingga saya berkata kepada Abu Bakar: "Masuklah dan Rasulullah memberikan berita gembira pada anda bahwa anda akan memperoleh syurga." Abu Bakar lalu masuk, sehingga duduklah ia di sebelah kanan Nabi صلی الله عليه وسلم yakni berjajar dengannya di dinding perigi dan melemberehkan kedua kakinya di perigi itu. Saya telah meninggalkan saudaraku * yaitu Abu Burdah - berwudhu' lalu menyusulku lagi. Saya berkata: "Jikalau Allah itu menghendaki kebaikan pada seseorang - yang dimaksudkan ialah saudaranya itu, maka Allah mendatangkannya - untuk dapat hadhir di tempat Nabi صلی الله عليه وسلم

Tiba-tiba ada orang lain lagi yang menggerak-gerakkan pintu. Saya bertanya: "Siapakah ini?" la menjawab: "Umar bin al-Khaththab." Saya berkata: "Tunggu sebentar," lalu saya mendatangi Rasulullah صلی الله عليه وسلم, memberikan salam padanya dan saya berkata: "Ini

Umar datang meminta izin." Beliau صلی الله عليه وسلم bersabda: "Izinkanlah ia dan sampaikanlah berita gembira bahwa ia memperoleh syurga." Kemudian saya mendatangi Umar lalu berkata: "Rasulullah صلی الله عليه وسلم mengizinkan. Masuklah dan Rasulullah صلی الله عليه وسلم menyampaikan berita gembira pada anda bahwa anda memperoleh syurga." Umar masuk lalu duduk bersama Rasulullah صلی الله عليه وسلم di dinding perigi di sebelah kirinya dan melemberehkan pula kedua kakinya di perigi tadi. Seterusnya saja kembali lagi lalu duduk dan berkata: "Jikalau Allah menghendaki kebaikan pada seseorang - yang dimaksudkan ialah saudaranya itu, maka Allah mendatangkannya - untuk dapat hadhir di tempat Nabi صلی الله عليه وسلم

Seterusnya datang pula seorang lagi lalu menggerak-gerakkan pintu, saya berkata: "Siapakah ini?" la menjawab: "Usman bin Affan." Saya berkata: "Tunggu sebentar." Saya mendatangi Nabi صلی الله عليه وسلم lagi dan memberitahukan padanya kedatangan Usman. Beliau صلی الله عليه وسلم lalu bersabda: "Izinkanlah ia dan sampaikanlah berita gembira padanya bahwa ia akan memperoleh syurga dengan mendapatkan beberapa bencana yang akan mengenai dirinya." Saya datang lalu berkata: "Masuklah dan Rasulullah صلی الله عليه وسلم menyampaikan berita gembira pada anda bahwa anda akan memperoleh syurga dengan adanya beberapa bencana yang akan mengenai anda." Usman masuklah dan didapatinya bahwa dinding perigi telah penuh. Maka dari itu ia duduk menghadap beliau-beliau - yang datang dulu itu - di tepi yang sebelah lainnya."

Said bin al-Musayyab berkata: "Kemudian saya mentakwilkan sedemikian itu akan makam-makam beliau-beliau - yakni bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم beserta kedua sahabatnya yakni Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma menjadi satu dalam sebuah tempat yaitu di bilik Sayyidah Aisyah رضي الله عنها." (Muttafaq 'alaih)

Dalam sebuah riwayat lain ditambahkan;

"Rasulullah menyuruh saya - Abu Musa al-Asy'ari - untuk menjaga pintu." Juga dalam Hadis ini disebutkan bahwasanya Usman ketika diberitahu kabar bahwa ia akan memperoleh syurga, ia lalu mengucapkan puji-pujian kepada Allah Ta'ala kemudian berkata: "Allah yang dimohoni pertolongan," sebab ia tahu akan memperoleh bencana di belakang hari nanti.

Nomor: 707

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, katanya: "Kitasemua duduk-duduk di sekitar Rasulullah صلی الله عليه وسلم, beserta kita ada pula Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma yakni dalam sekelompok sahabat. Kemudian Rasulullah صلی الله عليه وسلم berdiri dari hadapan kita lalu lambat benar kembalinya pada kita itu. Kita semua takut kalau-kalau mendapatkan suatu bencana tanpa sepengetahuan kita. Kitapun mulai takut lalu kita semua berdiri - untuk mencarinya. Sayalah pertama-tama orang yang merasa takut itu. Saya keluar mencari Rasulullah صلی الله عليه وسلم sehingga datanglah saya di suatu dinding pagar milik Bani Najjar. Saya berkeliling di sekitar dinding tadi, barangkali saya bisa mendapatkan pintunya, tetapi tidak saya temukan. Tiba-tiba di situ tampaklah suatu rabi' yang masuk ke tengah dari perigi yang ada di luar (rabi' iaiah selokan atau aliran air kecil). Sayapun lalu menggali tanah kemudian masuk menemui Rasulullah صلی الله عليه وسلم Beliau صلی الله عليه وسلم bersabda: "Abu Hurairah?" Saya berkata: "Ya, benar hai Rasulullah." Beliau bertanya: "Ada apakah engkau ini?" Saya berkata: "Tadi Tuan berada di muka kita semua, lalu Tuan berdiri, kemudian Tuan amat lambat datang kembali pada kita. Kita takut kalau-kalau Tuan mendapat sesuatu bencana tanpa sepengetahuan kita. Sayalah pertama- tama orang yang merasa ketakutan itu. Karena itu saya mendatangi dinding ini lalu saya menggali tanah sebagaimana musang menggalinya. Orang-orang itu semua ada di belakang saya." Beliau صلی الله عليه وسلم lalu bersabda: "Hai Abu Hurairah," dan beliau memberikan dua buah terumpahnya, lalu bersabda lagi: "Pergilah dengan dua buah terumpahku ini. Maka barangsiapa yang engkau temui dari balik dinding ini yang menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dengan hati yang meyakinkan benar-benar akan hai itu, hendaklah engkau berikan berita gembira padanya bahwa orang tersebut akan memperoleh syurga."

Selanjutnya Abu Hurairah menyebutkan Hadis ini selengkapnya yang panjang. (Riwayat Muslim)

Ar-Rabi' ialah sungai kecil yaitu selokan - jadwal - dengan menggunakan fathahnya jim, sebagaimana yang ditafsirkan dalam Hadis.

Ucapan Abu Hurairah رضي الله عنه: Ihtafartu, diriwayatkan dengan ra' dan dengan zai. Kalau dengan zai maknanya ialah saya menyusutkan diri dan saya mengecil sehingga dapatlah saya masuk ke dalam.

Nomor: 708

Dari Abu Syumasah, katanya: "Kita mendatangi 'Amr bin al-'Ash رضي الله عنه dan ia sedang dalam keadaan dihadhiri oleh kematian -yakni tidak lama lagi akan meninggal dunia. la menangis panjang -yakni lama sekali. Anaknya berkata: "Hai ayahku, bukankah Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah menyampaikan berita gembira kepada anda, demikian. Bukankah Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah menyampaikan beritagembirakepada anda, demikian." 'Amr lalu menghadapkan muka kepada anaknya itu, kemudian berkata: "Sesungguhnya seutama- utama apa yang kami sediakan - untuk pulang kembali ke alam akhirat - ialah bersyahadat bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah pesuruh Allah. Sesungguhnya saya ini telah mengalami tiga tingkat. Dahulu sekali saya telah melihat diriku sendiri yaitu bahwa tiada seorangpun yang paling saya benci melebihi kebencian saya kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan tiada sesuatu yang lebih saya inginkan daripada sekiranya saya dapat menguasai beliau صلی الله عليه وسلم lalu saya membunuhnya. Maka andaikata saya mati dalam keadaan sedemikian itu, niscayalah saya termasuk golongan ahli neraka.

Selanjutnya setelah Allah menetapkan Agama Islam dalam hatiku, maka saya mendatangi Nabi صلی الله عليه وسلم, lalu saya berkata: "Beberkanlah tangan kanan Tuan, supaya saya dapat berbat'at kepada Tuan." Beliau صلی الله عليه وسلم membeberkan tangan kanannya lalu saya menangkapkan tanganku - yakni menjabat tangan beliau صلی الله عليه وسلم itu. Beliau bertanya: "Ada apakah anda ini, hai 'Amr?" Saya berkata: "Saya menghendaki supaya diberi syarat." Beliau bertanya: "Dengan syarat apakah yang anda inginkan?" Saya menjawab: "Yaitu supaya saya diberi pengampunan - segala kesalahan yang lalu." Beliau bersabda: "Tidakkah anda ketahui bahwa Islam itu merusakkan apa-apa yang ada sebelumnya - yakni bahwa dosa-dosa yang dilakukan sebelum masuk Islam akan lenyap setelah seseorang itu masuk dalam Agama Islam itu. Juga bahwasanya hijrah itu merusakkan apa-apa yang sebelumnya dan bahwasanya haji juga merusakkan apa-apa yang sebelumnya." Sejak saat itu tiada seorangpun yang lebih saya cintai daripada Rasulullah صلی الله عليه وسلم Tidak ada pula seseorang yang lebih agung dalam pandangan mataku daripada beliau itu. Bahkan saya tidak dapat memenuhi kedua mataku dari kebesaran beliau itu, karena sangat menjunjung tinggi padanya. Andaikata saya diminta untuk menguraikan sifat beliau, tentu saya juga tidak dapat melakukannya, karena saya tidak dapat memenuhi kedua mataku daripada keperibadian dirinya itu. Jikalau sekiranya mati dalam keadaan sedemikian ini, niscayalah saya dapat mengharapkan bahwa saya akan termasuk dalam golongan ahli syurga. Tetapi sesudah itu kami diberi kekuasaan untuk mengatur beberapa macam persoalan, yang saya sendiri tidak mengetahui bagaimana keadaanku dalam macam-macam persoalan tadi - yakni apakah saya di pihak benar atau salah.

Oleh sebab itu, jikalau saya meninggal dunia, maka janganlah saya disertai oleh tangisan yang keras-keras dan jangan disertai api - sebab mayit akan memperoleh siksa api neraka, jikalau keluarganya menangis melebihi batas yang dibolehkan dalam syariat Islam. Seterusnya jikalau engkau semua menanam tubuhku, maka tuang-kanlah air sedikit demi sedikit di atas tanah. Kemudian beradalah engkau semua di sekitar kuburku sekedar lamanya menyembelih binatang lalu dibagi-bagikan dagingnya - maksudnya jangan terlampau lama di kubur itu, sehingga dengan demikian saya dapat merasa tenang dalam pertemuanku denganmu tadi dan saya dapat melihat apa yang akan saya berikan sebagai jawaban kepada para utusan Tuhanku - yakni para malaikat yang akan menanyainya dalam kubur." (Riwayat Muslim)

Ucapannya: syunnu diriwayatkan dengan menggunakan sin mu'jamah - berbunyi syunnu - dan ada yang dengan menggunakan sin muhmalah - berbunyi sunnu, artinya ialah tuangkanlah air sedikit demi sedikit.

Wallahu Subhanahu a'lam.

More about → Riyadhus Shalihin -Imam An-Nawawi- Bab 95: Sunnahnya Memberikan Berita Gembira Dan Mengucapkan Ikut Bergembira Dengan Diperolehnya Kebaikan