Tampilkan postingan dengan label Malu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malu. Tampilkan semua postingan

Shahih Sunan Abu Daud Kitab ADAB 7. Malu

Posted by Unknown on Kamis, 09 Mei 2013



عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ

4795. Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah melintas di hadapan seorang yang sedang menasihati saudaranya karena sikap pemalunya. Maka beliau bersabda, "Biarkanlah ia, sesungguhnya sifat malu itu sebagian daripada iman." Shahih: Ibnu Majah (58): Muttafaq 'Alaih



عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ كُنَّا مَعَ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ وَثَمَّ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ فَحَدَّثَ عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ إِنَّا نَجِدُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ أَنَّ مِنْهُ سَكِينَةً وَوَقَارًا وَمِنْهُ ضَعْفًا فَأَعَادَ عِمْرَانُ الْحَدِيثَ وَأَعَادَ بُشَيْرٌ الْكَلَامَ قَالَ فَغَضِبَ عِمْرَانُ حَتَّى احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَقَالَ أَلَا أُرَانِي أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُحَدِّثُنِي عَنْ كُتُبِكَ قَالَ قُلْنَا يَا أَبَا نُجَيْدٍ إِيهٍ إِيهِ

4796. Dari Abu Qatadah, ia berkata: Kami pernah bersama Imran bin Hushain dan Busyair bin Ka'b. Kemudian Imran bin Hushain berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Sifat malu itu baik semuanya.' Atau, 'Sifat malu itu semuanya baik'." Busyair bin Ka'b menanggapi, "Kami mendapati di beberapa kitab bahwa malu akan mendatangkan ketenangan, kewibawaan dan kelemahan.' Kemudian Imran mengulangi hadits yang dibacakan tadi, dan Busyair juga mengulangi perkataannya. Maka marahlah Imran hingga nampak matanya memerah lantas ia berkata, "Apakah tidak tampak olehmu bahwa aku sedang menyampaikan hadits Rasulullah SAW dan kamu malah menimpalinya dengan ungkapan kitab-kitabmu?" (Abu Qatadah) berkata, "Kami berseru, 'Wahai Abu Nujaid, jangan begitu, jangan begitu'!" Shahih: Ar-Raudh An-Nadhr (384), Muslim



عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

4797. Dari Abu Mas'ud, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya sesuatu yang didapati oleh banyak orang dari perkatan para nabi dahulu adalah, Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesuka hatimu'. " Shahih: Ibnu Majah (4183), Al Bukhari

More about → Shahih Sunan Abu Daud Kitab ADAB 7. Malu

Riyadhus Shalihin -Imam An-Nawawi- Bab 84: Malu Dan Keutamaannya Dan Menganjurkan Untuk Berakhlak Dengan Sifat Malu Itu

Posted by Unknown on Jumat, 19 April 2013




Nomor: 678

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم berjalan melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati saudaranya tentang hal sifat malu - yakni malu mengerjakan kejahatan. Kemudian Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: "Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan." (Muttafaq 'alaih)

Penjelasan:

Malu itu ada yang baik dan ada yang jelek. Malu menjalani sesuatu kemunkaran dan kemaksiatan atau umumnya larangan agama atau hal-hal yang syubhat adalah terpuji dan sangat baik. Tetapi malu menjalankan ketaatan kepada Allah, misalnya malu bersembahyang karena baru saja menyadari kebenaran beragama, malu pergi ke masjid, malu kalau tidak suka diajak berdansa-dansi, malu kalau menolak berjabatan tangan dengan wanita (bagi seorang lelaki), semuanya itu adalah tercela dan tidak ada kebaikannya samasekali.

Dalam hal ini ada sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari yang diterima dan' Abu Mas'ud yaitu Uqbah al-Anshari, mengatakan bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

"Sesungguhnya di antara hal-hal yang ditemui (didapatkan) dari ucapan kenubuwatan yang pertama ialah: Apabila kamu tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki."

Adapun Hadis di atas itu mengandung pengertian sebagai ancaman atau untuk menakut-nakuti pada seseorang yang hendak berbuat semau-maunya. Jadr maksudnya ialah: "Kalau kamu tidak malu kepada Allah dalam melakukan kemunkaran dan kemaksiatan itu, terserahlah, kamu boleh melakukan apa-apa yang kamu inginkan dan sesuka hatimulah. Tetapi ingatlah bahwa setiap sesuatu itu ada balasannya, baik di dunia ataupun di akhirat."

Ada pula sebagian alim-ulama yang berpendapat bahwa maksud Hadis di atas itu adalah untuk menunjukkan kebolehan sesuatu kelakuan. Jelasnya: "Kalau kamu hendak melakukan sesuatu, sekiranya kamu tidak malu kepada Allah dan para manusia, sebab memang bukan larangan agama, baik sajalah kamu lakukan. Tetapi sekalipun agama membolehkan, kalau kamu malu, tidak kamu lakukanpun baik juga jikalau hal itu termasuk sesuatuyawaz (yakni bukan hal yang wajib atau sunnah). Jadi baik dilakukan atau ditinggalkan sama saja bolehnya."

Nomor: 679

Dari Imran bin Hushain radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

"Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Sifat malu itu baik seluruh akibatnya." Atau beliau صلی الله عليه وسلم bersabda: "Malu itu semuanya baik akibatnya."

Yang dimaksud itu ialah malu mengerjakan kejahatan atau hal-hal yang tidak sopan menurut pandangan umum. Adapun malu mengerjakan kebaikan, maka amat tercela dan tidak dibenarkan oleh agama.

Nomor: 680

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, katanya: Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: "Keimanan itu ada tujuhpuluh lebih - tiga sampai sembilan -atau keimanan itu cabangnya ada enampuluh lebih - tiga sampai sembilan. Seutama-utamanya ialah ucapan La ilaha illallah dan serendah- rendahnya ialah menyingkirkan apa-apa yang berbahaya -semacam batu, duri, lumpur, abu kotoran dan Iain-Iain sebagainya -dari jalanan. Sifat malu adalah suatu cabang dari keimanan itu." (Muttafaq 'alaih)

Nomor: 681

Dari Abu Said al-Khudri رضي الله عنه, katanya: "Rasulullah صلی الله عليه وسلم itu lebih sangat sifat malunya daripada seorang perawan dalam tempat persembunyiannya - yakni perawan yang baru kawin dan berada dalam biliknya dengan suami yang belum pernah dikenalnya. la amat sangat malu kepada suaminya itu. Jikalau beliau صلی الله عليه وسلم melihat sesuatu yang tidak disenangi, maka kita dapat melihat itu tampak di wajahnya." (Muttafaq 'alaih)

Para alim-ulama berkata: "Hakikat sifat malu itu ialah suatu budipekerti yang menyebabkan seseorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia tidak mau lengah untuk menunaikan haknya seseorang yang mempunyai hak." Kami meriwayatkan dari Abul Qasim al-Junaid rahimahullah, katanya: "Malu ialah perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan melihat adanya kelengahan, lalu tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di atas tadi suatu keadaan yang dinamakan sifat malu."

Wallahu a'lam.

More about → Riyadhus Shalihin -Imam An-Nawawi- Bab 84: Malu Dan Keutamaannya Dan Menganjurkan Untuk Berakhlak Dengan Sifat Malu Itu