Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan

Shahih Sunan Abu Daud Kitab ADAB 2. Ketetapan Hati

Posted by Unknown on Kamis, 09 Mei 2013



حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْهَدْيَ الصَّالِحَ وَالسَّمْتَ الصَّالِحَ وَالِاقْتِصَادَ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

4776. Dari Abdullah bin Abbas, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya petunjuk yang baik, ketetapan (dalam agama) secara baik dan kesederhanaan adalah satu bagian dari dua puluh lima tanda kenabian." Hasan: Ar-Raudh An-Nadhr (384)

More about → Shahih Sunan Abu Daud Kitab ADAB 2. Ketetapan Hati

Shahih Sunan Abu Daud Kitab ADAB 1. Kemurahan Hati dan Budi Pekerti Rasulullah SAW

Posted by Unknown



قَالَ أَنَسٌ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ فَقُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَذْهَبُ وَفِي نَفْسِي أَنْ أَذْهَبَ لِمَا أَمَرَنِي بِهِ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي السُّوقِ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَابِضٌ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقَالَ يَا أُنَيْسُ اذْهَبْ حَيْثُ أَمَرْتُكَ قُلْتُ نَعَمْ أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَنَسٌ وَاللَّهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ سَبْعَ سِنِينَ أَوْ تِسْعَ سِنِينَ مَا عَلِمْتُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُ هَلَّا فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا

4773. Dari Anas, ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW adalah manusia yang paling baik budi pekertinya, suatu ketika beliau mengutusku dalam suatu urusan. Lalu aku menanggapi, 'Demi Allah. Aku tidak akan pergi.' Namun dalam hatiku aku ingin sekali pergi memenuhi apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Maka aku pun keluar hingga aku melewati dua anak kecil yang tengah bermain di pasar, dan tanpa kusadari Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang, hingga aku menoleh dan beliau pun tersenyum seraya bersabda, ' Wahai Anas. Pergilah sebagaimana perintahku tadi.' Aku langsung menjawab, 'Baik, wahai Rasulullah aku akan pergi.' Anas berkata, "Demi Allah aku telah mengabdikan diri kepada beliau selama tujuh, atau sembilan tahun, dan aku tidak pernah mendengar beliau berkomentar terhadap sesuatu yang telah aku lakukan, 'Mengapa kau lakukan ini dan itu?' Tidak pula berkomentar pada sesuatu yang aku tinggalkan, 'Mengapa kamu tidak melakukan ini dan itu'?" Hasan: Muslim (7/74), Muttafaq 'Alaih, Mukhtashar Asy-Syamil (296)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ بِالْمَدِينَةِ وَأَنَا غُلَامٌ لَيْسَ كُلُّ أَمْرِي كَمَا يَشْتَهِي صَاحِبِي أَنْ أَكُونَ عَلَيْهِ مَا قَالَ لِي فِيهَا أُفٍّ قَطُّ وَمَا قَالَ لِي لِمَ فَعَلْتَ هَذَا أَوْ أَلَّا فَعَلْتَ هَذَا

4774. Dari Anas, ia berkata, "Aku telah mengabdikan diri kepada Rasulullah SAW di Madinah selama sepuluh tahun sejak aku masih kanak-kanak. Tidaklah semua urusan yang aku lakukan sebagaimana yang dilakukan teman-teman sebayaku. Selama 10 tahun itu, beliau tidak pemah berucap, 'Ah' sama sekali kepadaku. Beliau juga tidak pernah mengatakan kepadaku, 'Mengapa kau lakukan ini?' atau, 'Tidakkah kau seharusnya melakukan ini'?!" Shahih: Muttafaq 'Alaih, lihat sebelumnya.

More about → Shahih Sunan Abu Daud Kitab ADAB 1. Kemurahan Hati dan Budi Pekerti Rasulullah SAW

Riyadhus Shalihin -Imam An-Nawawi- Bab 49: Menjalankan Hukum-hukum Terhadap Manusia Menurut Lahirnya, Sedang Keadaan Hati Mereka Terserah Allah Ta'ala

Posted by Unknown on Jumat, 19 April 2013


Nomor: 388

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahawasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

"Saya diperintah untuk memerangi semua manusia, sehingga mereka suka menyaksikan bahawa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahawasanya Muhammad adalah pesuruh Allah dan mendirikan shalat serta menunaikah zakat. Maka jikalau mereka telah melakukan yang sedemikian itu, terpeliharalah daripadaku darah serta harta benda mereka, melainkan dengan haknya Islam, sedang hisab - perhitungan amal - mereka adalah terserah kepada Allah Ta'ala. (Muttafaq 'alaih)

Nomor: 389

Dari Abu Abdillah iaitu Thariq bin as-Syam رضي الله عنه, katanya: "Saya mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

"Barangsiapa yang mengucapkan La ilaha illallah dan kafir mengingkari - dengan sesuatu yang disembah selain daripada Allah, maka haramlah harta benda serta darahnya, sedang hisabnya adalah terserah kepada Allah." (Riwayat Muslim)

Nomor: 390

Dari Abu Ma'bad yaitu al-Miqdad bin al-Aswad رضي الله عنه, katanya: "Saya berkata kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم: "Bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya bertemu seseorang dari golongan kaum kafir, kemudian kita berperang, lalu ia memukul salah satu dari kedua tanganku dengan pedang dan terus memutuskannya. Selanjutnya ia bersembunyi daripadaku di balik sebuah pohon, lalu ia mengucapkan: "Saya masuk Agama Islam karena Allah," apakah orang yang sedemikian itu boleh saya bunuh, ya Rasulullah sesudah ia mengucapkan kata-kata seperti tadi itu?" Beliau صلی الله عليه وسلم menjawab: "Jangan engkau membunuhnya." Saya berkata lagi: "Ia sudah memutuskan salah satu tangan saya, kemudian mengucapkan sebagaimana di atas itu setelah memutuskannya." Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda lagi: "Jangan engkau membunuhnya, kerana jikalau engkau membunuhnya, maka ia adalah menempati tempatmu sebelum engkau membunuhnya dan sesungguhnya engkau adalah di tempatnya sebelum ia mengucapkan kata-kata yang diucapkannya itu." (Muttafaq 'alaih)

Maknanya innahu bimanzilatika: sesungguhnya ia di tempatmu ialah bahawa orang itu harus dipelihara darahnya sebab telah dihukumi sebagai orang Islam. Adapun maknanya innaka biman zilatihi: sesungguhnya engkau di tempatnya ialah bahawa halal darahnya dengan qishash untuk para ahli warisnya, bukan kerana ia dalam kedudukannya sebagai orang kafir. Wallahu a'lam.'

Nomor: 391

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah صلی الله عليه وسلم mengirim kita ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kita berpagi-pagi menduduki tempat air mereka. Saya dan seorang lagi dari kaum Anshar bertemu dengan seseorang lelaki dari golongan mereka - musuh. Setelah kita dekat padanya, ia lalu mengucapkan: La ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar itu menahan diri daripadanya - tidak menyakiti sama sekali, sedang saya lalu menusuknya dengan tombakku sehingga saya membunuhnya.

Setelah kita datang - di Madinah, peristiwa itu sampai kepada Nabi صلی الله عليه وسلم, kemudian beliau bertanya padaku: "Hai Usamah, adakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan La ilaha illallah?" Saya berkata: "Ya Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya untuk mencari perlindungan diri saja - yakni mengatakan syahadat itu hanya untuk mencari selamat, sedang hatinya tidak meyakinkan itu." Beliau صلی الله عليه وسلم bersabda lagi: "Adakah ia engkau bunuh setelah mengucapkan La ilaha illallah?" Ucapan itu sentiasa diulang-ulangi oleh Nabi صلی الله عليه وسلم, sehingga saya mengharap-harapkan, bahawa saya belum menjadi Islam sebelum hari itu - yakni bahwa saya mengharapkan menjadi orang Islam itu mulai hari itu saja, supaya tidak ada dosa dalam diriku." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan: Lalu Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: "Bukankah ia telah mengucapkan La ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?" Saya menjawab: "Ya Rasulullah, hanyasanya ia mengucapkan itu semata-mata kerana takut senjata." Beliau صلی الله عليه وسلم bersabda: "Mengapa engkau tidak belah saja hatinya, sehingga engkau dapat mengetahui, apakah mengucapkan itu kerana takut senjata ataukah tidak - yakni dengan keikhlasan." Beliau صلی الله عليه وسلمmengulang-ulangi ucapannya itu sehingga saya mengharap-harapkan bahwa saya masuk Islam mulai hari itu saja.

Nomor: 392

Dari Jundub bin Abdullah رضي الله عنه bahawasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم mengirimkan sepasukan dari kaum Muslimin kepada suatu golongan dari kaum musyrikin dan bahawa mereka itu telah bertemu - berhadap-hadapan. Kemudian ada seseorang lelaki dari kaum musyrikin jikalau menghendaki menuju kepada seorang dari kaum Muslimin lalu ditujulah tempatnya lalu dibunuhnya. Lalu ada seorang dari kaum Muslimin menuju orang itu di waktu lengahnya. Kita semua memperbincangkan bahawa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Setelah orang Islam itu mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik tadi mengucapkan: "La ilaha illallah." Tetapi ia terus dibunuh olehnya. Selanjutnya datanglah seorang pembawa berita gembira kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم - memberitahukan kemenangan, beliau صلی الله عليه وسلم bertanya kepadanya - perihal jalannya peperangan - dan orang itu memberitahukannya, sehingga akhirnya orang itu memberitahukan pula perihal orang yang membunuh di atas, apa-apa yang dilakukan olehnya. Orang itu dipanggil oleh beliau صلی الله عليه وسلم dan menanyakan padanya, lalu sabdanya: "Mengapa engkau membunuh orang itu?" Orang tadi menjawab: "Ya Rasulullah, orang itu telah banyak menyakiti di kalangan kaum Muslimin dan telah membunuh si Fulan dan si Fulan." Orang itu menyebutkan nama beberapa orang yang dibunuhnya. Ia melanjutkan: "Saya menyerangnya, tetapi setelah melihat pedang, ia mengucapkan: "La ilaha illallah." Rasulullah صلی الله عليه وسلم bertanya: "Apakah ia sampai kau bunuh?" Ia menjawab: "Ya." Kemudian beliau bersabda: "Bagaimana yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?" Orang itu berkata: "Ya Rasulullah, mohonkanlah pengampunan - kepada Allah - untukku." Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: "Bagaimana yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?" Beliau صلی الله عليه وسلم tidak menambahkan sabdanya lebih dari kata-kata: "Bagaimanakah yang hendak kauperbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?" (Riwayat Muslim)

Nomor: 393

Dari Abdullah bin Utbah bin Mas'ud, katanya: "Saya mendengar Umar bin Alkhaththab رضي الله عنه bersabda: "Sesungguhnya sekalian manusia itu dahulu diterapi dengan hukum sesuai dengan adanya wahyu yakni di zaman Rasulullah صلی الله عليه وسلم, dan sesungguhnya wahyu itu kini telah terputus - tidak datang lagi, sebab Nabi صلی الله عليه وسلم telah wafat. Maka hanyasanya kami - Umar رضي الله عنه - menuntut engkau semua dengan dasar apa yang tampak pada kami iaitu mengenai perbuatan-perbuatan yang engkau semua lakukan. Jadi barangsiapa yang menampakkan perbuatan baik pada kami, maka kami berikan keamanan dan kami dekatkan kedudukannya pada kami, sedang urusan apa yang dalam hatinya tidak sedikitpun kami persoalkan, kerana Allah akan menghisabnya dalam hal isi hatinya itu. Tetapi barangsiapa yang menampakkan kelakuan buruk pada kami, maka kami tidak akan memberikan keamanan padanya dan tidak akan percaya ucapannya, sekalipun ia mengatakan bahawasanya niat hatinya adalah baik." (Riwayat Bukhari)

More about → Riyadhus Shalihin -Imam An-Nawawi- Bab 49: Menjalankan Hukum-hukum Terhadap Manusia Menurut Lahirnya, Sedang Keadaan Hati Mereka Terserah Allah Ta'ala