Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan

Shahih Sunan Abu Daud Kitab ADAB 58. Mendamaikan Perselisihan

Posted by Unknown on Kamis, 09 Mei 2013




عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ

4919. Dari Abu Darda, Rasulullah SAW bersabda, "Tidakkah kalian ingin aku beritahukan sesuatu yang lebih utama derajatnya daripada puasa, shalat, dan sedekah?" Para sahabat berkata, "Ya, wahai Rasulullah." Rasulullah bersabda, "Mendamaikan orang yang berselisih. Rusaknya hubungan orang yang berselisih adalah pemangkas." Shahih: At-Tirmidzi (2640)

عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُمِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمْ يَكْذِبْ مَنْ نَمَى بَيْنَ اثْنَيْنِ لِيُصْلِحَ وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ وَمُسَدَّدٌ لَيْسَ بِالْكَاذِبِ مَنْ أَصْلَحَ بَيْنَ النَّاسِ فَقَالَ خَيْرًا أَوْ نَمَى خَيْرًا

4920. Dari Ummu Kultsum binti 'Uqbah, Nabi SAW bersabda, "Bukanlah pendusta orang yang mengadu diantara dua orang untuk mendamaikannya." Dalam riwayat lain, "Bukan pendusta orang yang meperbaiki (hubungan) diantara manusia, ia berkata baik atau mengadu kebaikan." Shahih: At-Tirmidzi (2021)

عَنْ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِنْ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا أَعُدُّهُ كَاذِبًا الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ يَقُولُ الْقَوْلَ وَلَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا الْإِصْلَاحَ وَالرَّجُلُ يَقُولُ فِي الْحَرْبِ وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا

4921. Dari Ummu Kulsum binti Uqbah, ia berkata, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah SAW memberikan keringanan dalam berdusta kecuali dalam tiga hal. Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak aku anggap berbohong seseorang yang memperbaiki hubungan manusia, ia mengucapkan satu perkataan hanya untuk mendamaikan. Seorang lelaki yang berbohong dalam peperangan. Dan suami yang berbicara kepada istri dan istri yang berbicara kepada suaminya'. " Shahih: Ash-Shahihah (545)

More about → Shahih Sunan Abu Daud Kitab ADAB 58. Mendamaikan Perselisihan

Riyadhus Shalihin -Imam An-Nawawi- Bab 49: Menjalankan Hukum-hukum Terhadap Manusia Menurut Lahirnya, Sedang Keadaan Hati Mereka Terserah Allah Ta'ala

Posted by Unknown on Jumat, 19 April 2013


Nomor: 388

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahawasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

"Saya diperintah untuk memerangi semua manusia, sehingga mereka suka menyaksikan bahawa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahawasanya Muhammad adalah pesuruh Allah dan mendirikan shalat serta menunaikah zakat. Maka jikalau mereka telah melakukan yang sedemikian itu, terpeliharalah daripadaku darah serta harta benda mereka, melainkan dengan haknya Islam, sedang hisab - perhitungan amal - mereka adalah terserah kepada Allah Ta'ala. (Muttafaq 'alaih)

Nomor: 389

Dari Abu Abdillah iaitu Thariq bin as-Syam رضي الله عنه, katanya: "Saya mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

"Barangsiapa yang mengucapkan La ilaha illallah dan kafir mengingkari - dengan sesuatu yang disembah selain daripada Allah, maka haramlah harta benda serta darahnya, sedang hisabnya adalah terserah kepada Allah." (Riwayat Muslim)

Nomor: 390

Dari Abu Ma'bad yaitu al-Miqdad bin al-Aswad رضي الله عنه, katanya: "Saya berkata kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم: "Bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau saya bertemu seseorang dari golongan kaum kafir, kemudian kita berperang, lalu ia memukul salah satu dari kedua tanganku dengan pedang dan terus memutuskannya. Selanjutnya ia bersembunyi daripadaku di balik sebuah pohon, lalu ia mengucapkan: "Saya masuk Agama Islam karena Allah," apakah orang yang sedemikian itu boleh saya bunuh, ya Rasulullah sesudah ia mengucapkan kata-kata seperti tadi itu?" Beliau صلی الله عليه وسلم menjawab: "Jangan engkau membunuhnya." Saya berkata lagi: "Ia sudah memutuskan salah satu tangan saya, kemudian mengucapkan sebagaimana di atas itu setelah memutuskannya." Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda lagi: "Jangan engkau membunuhnya, kerana jikalau engkau membunuhnya, maka ia adalah menempati tempatmu sebelum engkau membunuhnya dan sesungguhnya engkau adalah di tempatnya sebelum ia mengucapkan kata-kata yang diucapkannya itu." (Muttafaq 'alaih)

Maknanya innahu bimanzilatika: sesungguhnya ia di tempatmu ialah bahawa orang itu harus dipelihara darahnya sebab telah dihukumi sebagai orang Islam. Adapun maknanya innaka biman zilatihi: sesungguhnya engkau di tempatnya ialah bahawa halal darahnya dengan qishash untuk para ahli warisnya, bukan kerana ia dalam kedudukannya sebagai orang kafir. Wallahu a'lam.'

Nomor: 391

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah صلی الله عليه وسلم mengirim kita ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kita berpagi-pagi menduduki tempat air mereka. Saya dan seorang lagi dari kaum Anshar bertemu dengan seseorang lelaki dari golongan mereka - musuh. Setelah kita dekat padanya, ia lalu mengucapkan: La ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar itu menahan diri daripadanya - tidak menyakiti sama sekali, sedang saya lalu menusuknya dengan tombakku sehingga saya membunuhnya.

Setelah kita datang - di Madinah, peristiwa itu sampai kepada Nabi صلی الله عليه وسلم, kemudian beliau bertanya padaku: "Hai Usamah, adakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan La ilaha illallah?" Saya berkata: "Ya Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya untuk mencari perlindungan diri saja - yakni mengatakan syahadat itu hanya untuk mencari selamat, sedang hatinya tidak meyakinkan itu." Beliau صلی الله عليه وسلم bersabda lagi: "Adakah ia engkau bunuh setelah mengucapkan La ilaha illallah?" Ucapan itu sentiasa diulang-ulangi oleh Nabi صلی الله عليه وسلم, sehingga saya mengharap-harapkan, bahawa saya belum menjadi Islam sebelum hari itu - yakni bahwa saya mengharapkan menjadi orang Islam itu mulai hari itu saja, supaya tidak ada dosa dalam diriku." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan: Lalu Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: "Bukankah ia telah mengucapkan La ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?" Saya menjawab: "Ya Rasulullah, hanyasanya ia mengucapkan itu semata-mata kerana takut senjata." Beliau صلی الله عليه وسلم bersabda: "Mengapa engkau tidak belah saja hatinya, sehingga engkau dapat mengetahui, apakah mengucapkan itu kerana takut senjata ataukah tidak - yakni dengan keikhlasan." Beliau صلی الله عليه وسلمmengulang-ulangi ucapannya itu sehingga saya mengharap-harapkan bahwa saya masuk Islam mulai hari itu saja.

Nomor: 392

Dari Jundub bin Abdullah رضي الله عنه bahawasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم mengirimkan sepasukan dari kaum Muslimin kepada suatu golongan dari kaum musyrikin dan bahawa mereka itu telah bertemu - berhadap-hadapan. Kemudian ada seseorang lelaki dari kaum musyrikin jikalau menghendaki menuju kepada seorang dari kaum Muslimin lalu ditujulah tempatnya lalu dibunuhnya. Lalu ada seorang dari kaum Muslimin menuju orang itu di waktu lengahnya. Kita semua memperbincangkan bahawa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Setelah orang Islam itu mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik tadi mengucapkan: "La ilaha illallah." Tetapi ia terus dibunuh olehnya. Selanjutnya datanglah seorang pembawa berita gembira kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم - memberitahukan kemenangan, beliau صلی الله عليه وسلم bertanya kepadanya - perihal jalannya peperangan - dan orang itu memberitahukannya, sehingga akhirnya orang itu memberitahukan pula perihal orang yang membunuh di atas, apa-apa yang dilakukan olehnya. Orang itu dipanggil oleh beliau صلی الله عليه وسلم dan menanyakan padanya, lalu sabdanya: "Mengapa engkau membunuh orang itu?" Orang tadi menjawab: "Ya Rasulullah, orang itu telah banyak menyakiti di kalangan kaum Muslimin dan telah membunuh si Fulan dan si Fulan." Orang itu menyebutkan nama beberapa orang yang dibunuhnya. Ia melanjutkan: "Saya menyerangnya, tetapi setelah melihat pedang, ia mengucapkan: "La ilaha illallah." Rasulullah صلی الله عليه وسلم bertanya: "Apakah ia sampai kau bunuh?" Ia menjawab: "Ya." Kemudian beliau bersabda: "Bagaimana yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?" Orang itu berkata: "Ya Rasulullah, mohonkanlah pengampunan - kepada Allah - untukku." Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: "Bagaimana yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?" Beliau صلی الله عليه وسلم tidak menambahkan sabdanya lebih dari kata-kata: "Bagaimanakah yang hendak kauperbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?" (Riwayat Muslim)

Nomor: 393

Dari Abdullah bin Utbah bin Mas'ud, katanya: "Saya mendengar Umar bin Alkhaththab رضي الله عنه bersabda: "Sesungguhnya sekalian manusia itu dahulu diterapi dengan hukum sesuai dengan adanya wahyu yakni di zaman Rasulullah صلی الله عليه وسلم, dan sesungguhnya wahyu itu kini telah terputus - tidak datang lagi, sebab Nabi صلی الله عليه وسلم telah wafat. Maka hanyasanya kami - Umar رضي الله عنه - menuntut engkau semua dengan dasar apa yang tampak pada kami iaitu mengenai perbuatan-perbuatan yang engkau semua lakukan. Jadi barangsiapa yang menampakkan perbuatan baik pada kami, maka kami berikan keamanan dan kami dekatkan kedudukannya pada kami, sedang urusan apa yang dalam hatinya tidak sedikitpun kami persoalkan, kerana Allah akan menghisabnya dalam hal isi hatinya itu. Tetapi barangsiapa yang menampakkan kelakuan buruk pada kami, maka kami tidak akan memberikan keamanan padanya dan tidak akan percaya ucapannya, sekalipun ia mengatakan bahawasanya niat hatinya adalah baik." (Riwayat Bukhari)

More about → Riyadhus Shalihin -Imam An-Nawawi- Bab 49: Menjalankan Hukum-hukum Terhadap Manusia Menurut Lahirnya, Sedang Keadaan Hati Mereka Terserah Allah Ta'ala

Riyadhus Shalihin -Imam An-Nawawi- Bab 31: Mendamaikan Antara Para Manusia

Posted by Unknown


Nomor: 249

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, katanya: "Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

"Setiap seruas tulang dari seluruh manusia itu harus memberikan sedekahnya pada setiap hari yang matahari terbit pada hari itu. Mendamaikan dengan cara yang adil antara dua orang adalah sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya lalu mengangkatnya di tas kendaraannya itu atau mengangkatkan barang-barangnya ke sana, itupun sedekah, ucapan yang baik juga sedekah dan setiap langkah yang dijalaninya untuk pergi shalat juga merupakan sedekah, menyingkirkan benda-benda yang berbahaya dari jalan termasuk sedekah pula." (Muttafaq 'alaih)

Nomor: 250

Dari Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abu Mu'aith, katanya: "Saya mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

"Bukannya termasuk pendusta orang yang mendamaikan antara para manusia, lalu ia menyampatkan berita yang baik atau mengatakan sesuatu yang baik." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan tambahannya demikian: Ummu Kultsum berkata: "Saya tidak pernah mendengar dari Nabi صلی الله عليه وسلم tentang dibolehkannya berdusta daripada ucapan-ucapan yang diucapkan oleh para manusia itu, melainkan dalam tiga hal yaitu perihal peperangan, mendamaikan antara para manusia dan perkataan seseorang suami kepada isterinya serta perkataan isteri kepada suaminya - yang akan membawa kebaikan rumah-tangga dan lain-lain."

Nomor: 251

Dari Aisyah رضي الله عنها, katanya: "Rasulullah صلی الله عليه وسلم mendengar suara pertengkaran di arah pintu, yang suara kedua orang yang bertengkar itu terdengar keras- keras. Tiba-tiba salah seorang dari keduanya itu meminta kepada yang lainnya agar sebagian hutangnya dihapuskan dan ia meminta belas kasihannya, sedangkan kawannya itu berkata: "Demi Allah, permintaan itu tidak saya lakukan - tidak dibenarkan."

Rasulullah صلی الله عليه وسلم kemudian keluar menemui keduanya lalu bersabda: "Siapakah orang yang bersumpah atas Allah untuk tidak melakukan kebaikan itu?" Orang itu berkata: "Saya ya Rasulullah. Tetapi baginya- orang yang berhutang tadi - mana saja yang ia sukai - maksudnya pemotongan sebagian hutangnya dikabulkan dengan sebab syafa'at beliau صلی الله عليه وسلم itu." (Muttafaq 'alaih)

Nomor: 252

Dari Abul Abbas yaitu Sahal bin Sa'ad as-Saidi رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم menerima berita bahwa antara sesama keturunan 'Amr bin 'Auf itu terjadi suatu hal yang tidak baik - perselisihan faham, lalu Rasulullah صلی الله عليه وسلم keluar menemui mereka untuk mendamaikan antara orang-orang itu dan beliau disertai beberapa orang sahabatnya. Rasulullah صلی الله عليه وسلم tertahan - ditahan oleh orang-orang yang didatangi olehnya untuk diberi jamuan sebagai tamu, sedangkan shalat - Ashar - sudah masuk waktunya. Bilal mendatangi Abu Bakar رضي الله عنه lalu berkata: "Hai Abu Bakar, sesungguhnya Rasulullah tertahan, sedangkan shalat sudah masuk waktunya. Adakah Tuan suka menjadi imamnya para manusia?" Abu Bakar menjawab: "Baiklah, jikalau engkau menghendaki demikian." Bilal membaca iqamah dan majulah Abu Bakar, kemudian ia bertakbir dan orang-orangpun bertakbir pula.

Di tengah shalat itu Rasulullah صلی الله عليه وسلم datang berjalan di barisan sehingga berdirilah beliau di suatu barisan. Orang-orang banyak mulai bertepuk tangan, sedangkan Abu Bakar tidak menoleh dalam shalatnya itu. Tetapi setelah para manusia makin banyak yang bertepuk-tepuk tangan, lalu Abu Bakar menoleh ke belakang, tiba-tiba tampaklah olehnya Rasulullah صلی الله عليه وسلم Beliau صلی الله عليه وسلم mengisyaratkan supaya shalat diteruskan - dan ia sebagai imamnya. Tetapi Abu

Bakar setelah mengangkat tangannya - untuk beri'tidal lalu bertahmid kepada Allah terus kembali ke belakang perlahan-lahan sampai berada di belakang terus berdiri di jajaran shaf.

Rasulullah صلی الله عليه وسلم lalu maju, kemudian bersembahyang sebagai imamnya para manusia. Setelah selesai beliau صلی الله عليه وسلم menghadap orang-orang itu lalu bersabda: "Hai sekalian manusia, mengapa ketika terjadi sesuatu dalam shalat, lalu engkau semua bertepuk tangan? Hanyasanya bertepuk tangan itu untuk kaum wanita. Barangsiapa yang terjadi sesuatu dalam shalatnya, hendaklah mengucapkan: Subhanallah, maka sesungguhnya tiada seorangpun yang mendengar ketika dibacakan Subhanallah itu, melainkan ia tentu akan menoleh. Hai Abu Bakar, apakah yang menyebabkan saudara terhenti tercegah - tidak meneruskan - melakukan shalat sebagai imamnya orang banyak, ketika saya memberikan isyarat untuk meneruskannya itu?" Abu Bakar menjawab: "Kiranya tidak sepatutnyalah untuk anak Abu Quhafah ini kalau bersembahyang sebagai imam di sisi Rasulullah صلی الله عليه وسلم - maksudnya Rasulullah sebagai makmumnya." (Muttafaq 'alaih)

More about → Riyadhus Shalihin -Imam An-Nawawi- Bab 31: Mendamaikan Antara Para Manusia